Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

Friday, 11 March 2016

Dialog Sakral Seorang Profesor dengan Bung Karno tentang Tuhan.


TERUNGKAP..Dialog Sakral Seorang Profesor dengan Bung Karno tentang Tuhan.

Mungkin ini adalah pertemuan dan dialog sakral yang mencerahkan sekaligus mengagumkan, yang dialami oleh Prof. DR. H. Kadirun Yahya, Msc – seorang angkatan 1945, ahli sufi, ahli fisika dan pernah menjabat sebagai rektor Universitas Panca Budi, Medan – dengan Presiden RI pertama Ir. Soekarno.

Ia bersama rombongan saat itu diterima di beranda Istana Merdeka (sekitar bulan Juli 1965) bersama dengan Prof. Ir. Brojonegoro (alm), Prof. dr. Syarif Thayib, Bapak Suprayogi, Admiral John Lie, Pak Sucipto Besar, Kapolri, Duta Besar Belanda.

“Wah, pagi-pagi begini saya sudah dikepung oleh 3 Profesor-Profesor” kelakar Ir. Soekarno membuka dialog ketika menemui rombongan Prof. Kadirun Yahya beserta rombongan. Kemudian Presiden Soekarno mempersilakan rombongan tamunya untuk duduk.





“Profesor Kadirun Yahya silakan duduk dekat saya”, pinta presiden Soekarno kepada Prof. Kadirun Yahya, terkesan khusus.

“Professor, ik horde van jou al sinds 4 jaar, maar nu pas onmoet ik jou, ik wou je eigenlijk iets vragen (saya dengar tentang engkau sudah sejak 4 tahun, tapi baru sekarang aku ketemu engkau, sebenarnya ada sesuatu yang akan aku tanyakan padamu),” kata presiden Soekarno dengan bahasa Belanda.
“Ya, tentang apa itu Bapak Presiden…?”

“Tentang sesuatu hal yang sudah kira-kira 10 tahun, saya cari-cari jawabannya, tapi belum ketemu jawaban yang memuaskan. Saya sudah bertanya pada semua ulama dan para intelektual yang saya anggap tahu. Tetapi semua jawabannya tetap tidak memuaskan saya.”
“Lantas soalnya apa bapak Presiden?”

“Saya bertanya terlebih dahulu tentang yang lain, sebelum saya majukan pertanyaan yang sebenarnya” jawab Presiden Soekarno.
“Baik Presiden” kata Prof. Kadirun Yahya

Profesor Kadirun Yahya


“Manakah yang lebih tinggi, Presiden atau Jenderal atau Profesor dibanding dengan sorga?” tanya Presiden. “Sorga” jawab Prof.Kadirun Yahya.

“Accoord (setuju)”, balas Presiden terlihat lega.

Menyusul Presiden bertanya untuk soal berikutnya. “Lantas manakah yang lebih banyak dan lebih lama pengorbanannya antara pangkat-pangkat dunia yang tadi dibanding dengan pangkat sorga?” tanyanya.

“Untuk Presiden, Jenderal, Profesor harus berpuluh-puluh tahun berkorban dan ber-abdi pada Negara, nusa dan bangsa atau pada ilmu pengetahuan. Sedangkan untuk mendapatkan sorga harus berkorban untuk Allah segala-galanya. Berpuluh-puluh tahun terus menerus, bahkan menurut agama Hindu atau Budha harus beribu-ribu kali hidup dan berabdi, baru barangkali dapat masuk Nirwana,” jawab Prof. Kadirun.
“Accoord”, kata Bung Karno (panggilan akrab Presiden).

“Nu heb ik je te pakken Professor (sekarang baru dapat kutangkap engkau Profesor)” lanjut Bung Karno. Tampak mukanya cerah berseri dengan senyumnya yang khas. Dan kelihatannya Bung Karno belum ingin cepat-cepat bertanya untuk yang pokok masalah. “Saya cerita sedikit dulu” kata Bung Karno.
“Silakan Bapak Presiden”.

“Saya telah melihat teman-teman saya meninggal dunia lebih dahulu dari saya, dan hampir semuanya matinya jelek karena banyak dosa rupanya. Sayapun banyak dosa dan saya takut mati jelek. Maka saya selidiki Al-Quran dan Al-Hadits bagaimana caranya supaya dengan mudah hapus dosa saya dan dapat ampunan dan bisa mati tersenyum.”

“Lantas saya ketemu dengan satu Hadits yang bagi saya berharga. Bunyinya kira-kira sebagai berikut : Rasulullah berkata; Seorang wanita penuh dosa berjalan di padang pasir, bertemu dengan seekor anjing dan kehausan. Wanita tadi mengambil gayung yang berisikan air dan memberi minum anjing yang kehausan itu. Rasul lewat dan berkata: Hai para sahabatku. Lihatlah, dengan memberi minum anjing itu, hapus dosa wanita itu dunia dan akhirat. Ia ahli sorga”.

“Nah Profesor, tadi engkau katakan bahwa untuk mendapatkan sorga harus berkorban segala-galanya, berpuluh-puluh tahun untuk Allah baru dapat masuk sorga. Itupun barangkali. Sementara sekarang seorang wanita yang berdosa dengan sedikit saja jasa, itupun pada seekor anjing pula, dihapuskan Tuhan dosanya dan ia ahli sorga. How do you explain it Professor?” Tanya Bung Karno lanjut. Profesor Kadirun Yahya terlihat tidak langsung menjawab. Ia hening sejenak. Lantas berdiri dan meminta kertas.

“Presiden, U zei, det U in 10 jaren’t antwoord niet hebt kunnen vinden, laten we zien (Presiden, tadi bapak katakan dalam 10 tahun tak ketemu jawabannya, coba kita lihat), mudah-mudahan dengan bantuan Allah dalam 2 menit saja saya coba memberikan jawabannya dan memuaskan”, katanya.

Keduanya adalah sama-sama eksakta, Bung Karno adalah seorang insinyur dan Profesor Kadirun Yahya adalah ahli kimia/fisika.

Di atas kertas Prof. Kadirun mulai menuliskan penjelasannya.
10/10 = 1 ;
“Ya” kata Presiden.
10/100 = 1/10 ; “Ya” kata Presiden.
10/1000` = 1/100 ;
“Ya” kata Presiden.
10/10.000 = 1/1000 ;
“Ya” kata Presiden.

10 / ∞ (tak terhingga) = 0 ;
“Ya” kata Presiden.
1000.000 … / ∞ = 0 ;
“Ya” kata Presiden.
(Berapa saja + Apa saja) /∞ = 0;
“Ya” kata Presiden.
Dosa / ∞ = 0 ;
“Ya” kata Presiden. ———————————————–“

Nah…” lanjut Prof,
1 x ∞ = ∞ ;
“Ya” kata Presiden
½ x ∞ = ∞ ;
“Ya” kata Presiden.
1 zarah x ∞ = ∞ ;
“Ya” kata Presiden.
“… ini artinya, sang wanita, walaupun hanya 1 zarah jasanya, bahkan terhadap seekor anjing sekalipun, mengkaitkan, menggandengkan gerakannya dengan yang Maha Akbar.”

“Mengikutsertakan yang Maha Besar dalam gerakan-gerakannya, maka hasil dari gerakannya itu menghasilkan ibadah yang begitu besar, yang langsung dihadapkan pada dosa-dosanya, yang pada saat itu juga hancur berkeping-keping. Ditorpedo oleh PAHALA yang Maha Besar itu. 1 zarah x ∞ = ∞ Dan, Dosa / ∞ = 0.
Ziedaar hetantwoord, Presiden (Itulah dia jawabannya Presiden)” jawab Profesor.

Bung Karno diam sejenak . “Geweldig (hebat)” katanya kemudian. Dan Bung Karno terlihat semakin penasaran.

Masih ada lagi pertanyaan yang ia ajukan. “Bagaimana agar dapat hubungan dengan Tuhan?” katanya.

Profesor Kadirun Yahya pun lanjut menjawabnya. “Dengan mendapatkan frekuensi-Nya. Tanpa mendapatkan frekuensi-Nya tak mungkin ada kontak dengan Tuhan.”

“Lihat saja, walaupun 1 mm jaraknya dari sebuah zender radio, kita letakkan radio dengan frekuensi yang tidak sama, maka radio kita itu tidak akan mengeluarkan suara dari zender tersebut. Begitu juga dengan Tuhan, walaupun Tuhan berada lebih dekat dari kedua urat leher kita, tak mungkin ada kontak jika frekuensi-Nya tidak kita dapati”, jelasnya.

“Bagaimana agar dapat frekuensi-Nya, sementara kita adalah manusia kecil yang serba kekurangan ?” tanya Presiden kemudian.

“Melalui isi dada Rasulullah” jawab Prof.

“Dalam Hadits Qudsi berbunyi yang artinya : Bahwasanya Al-Quran ini satu ujungnya di tangan Allah dan satu lagi di tangan kamu, maka peganglah kuat-kuat akan dia” (Abi Syuraihil Khuza’ayya.r.a), lanjutnya.

Prof menyambung, “Begitu juga dalam QS.Al-Hijr :29 – Maka setelah Aku sempurnakan dia dan Aku tiupkan di dalamnya sebagian rohKu, rebahkanlah dirimu bersujud kepadaNya”.

“Nur Illahi yang terbit dari Allah sendiri adalah tali yang nyata antara Allah dengan Rasulullah. Ujung Nur Illahi itu ada dalam dada Rasulullah. Ujungnya itulah yang kita hubungi, maka jelas kita akan dapat frekuensi dari Allah SWT”, kata Prof.

Prof melanjutkan, “Lihat saja sunnatullah, hanya cahaya matahari saja yang satu-satunya sampai pada matahari. Tak ada yang sampai pada matahari melainkan cahayanya sendiri. Juga gas-gas yang saringan-saringannya tak ada yang sampai matahari, walaupun ‘edelgassen’ seperti : Xenon, Crypton, Argon, Helium, Hydrogen dan lain-lain. Semua vacuum!
Yang sampai pada matahari hanya cahayanya karena ia terbit darinya dan tak bercerai siang dan malamnya dengannya. Kalaulah matahari umurnya 1 (satu) juta tahun, maka cahayanyapun akan berumur sejuta tahun pula. Kalau matahari hilang maka cahayanyapun akan hilang. Matahari hanya dapat dilihat melalui cahayanya, tanpa cahaya, mataharipun tak dapat dilihat”.

“Namun cahaya matahari, bukanlah matahari – cahaya matahari adalah getaran transversal dan longitudinal dari matahari sendiri (Huygens)”, jelas Prof.

Prof menyimpulkan, “Dan Rasulullah adalah satu-satunya manusia akhir zaman yang mendapat Nur Illahi dalam dadanya. Mutlak jika hendak mendapatkan frekuensi Allah, ujung dari nur itu yang berada dalam dada Rasulullah harus dihubungi.”

“Bagaimana cara menghubungkannya, sementara Rasulullah sudah wafat sekian lama?” tanya Presiden. “

Prof menjawab, “Memperbanyak sholawat atas Nabi tentu akan mendapatkan frekuensi Beliau, yang otomatis mendapat frekuensi Allah SWT.
–Tidak kukabulkan doa seseorang, tanpa shalawat atas Rasul-Ku. Doanya tergantung di awang-awang – (HR. Abu Daud dan An-Nasay).

Jika diterjemahkan secara akademis mungkin kurang lebih : “Tidak engkau mendapat frekuensi-Ku tanpa lebih dahulu mendapat frekuensi Rasul-Ku”.

Sontak Presiden berdiri. “You are wonderful” teriaknya. Sejurus kemudian, dengan merangkul kedua tangan profesor, Presidenpun bermohon : “Profesor, doakan saya supaya dapat mati dengan tersenyum dibelakang hari nanti…

Subhanallah. Semoga Bpk. Proklamator Republik Indonesia ini mendapat tempat yang Layak di sisi Allah SWT. Amin Ya Rabbal 'Alamin

Tuesday, 8 March 2016

Isi Tas Siswi SMA Ini Membuat Para Gurunya Menangis!


Razia Kelas, Isi Tas Siswi SMA Ini Membuat Para Gurunya Menangis!


Pihak sekolah SMA Putri pada kota Shan’a’ yang artinya mak   kota Yaman menetapkan kebijakan adanya investigasi mendadak bagi seluruh siswi pada dalam kelas. Sebagaimana yg ditegaskan sang galat seorang pegawai sekolah bahwa tentunya investigasi itu bertujuan merazia barang-barang yg pada larang pada bawa ke dalam sekolah, seperti: telepon genggam yg dilengkapi menggunakan kamera, foto-foto, surat-surat, indera-indera kecantikan dan  lain sebagainya. Yg mana seharusnya memang sebuah forum pendidikan menjadi sentra ilmu bukan buat hal-hal yg tidak baik.

Lantas pihak sekolah pun melakukan sweeping pada semua kelas dengan penuh semangat. Mereka keluar kelas, masuk kelas lain.

Ad interim tas para siswi terbuka di hadapan mereka. Tas-tas tadi tidak berisi apapun melainkan beberapa buku, pulpen, dan  peralatan sekolah lainnya..

Seluruh kelas telah dirazia, hanya tersisa satu kelas saja. Dimana kelas tersebut ada seorang siswi yang menceritakan kisah ini.

Seperti biasa, dengan penuh percaya diri tim pemeriksa masuk ke pada kelas. Mereka lantas meminta biar   buat menilik tas sekolah para siswi pada sana. Pemeriksaan pun dimulai..

Pada salah  satu sudut kelas terdapat seorang siswi yang dikenal sangat tertutup serta pemalu. Dia pula dikenal sebagai seseorang siswi yang berakhlak sopan serta santun. Ia tidak suka  berbaur dengan siswi-siswi lainnya, dia senang menyendiri, padahal beliau sangat pandai  serta menonjol pada belajar..

Ia memandang tim pemeriksa menggunakan pandangan penuh ketakutan, sementara tangannya berada pada dalam tas miliknya. Semakin dekat gilirannya buat diperiksa, semakin tampak raut takut pada wajahnya.

Apakah sebenarnya yg
disembunyikan siswi tersebut dalam tasnya?!

Tidak lama   kemudian tibalah gilirannya untuk diperiksa..

Dia memegangi tasnya menggunakan kuat, seolah berkata demi Allah kalian tidak boleh membukanya!

Kini   giliran diperiksa, dan  berasal sinilah dimulai kisahnya…

“Buka tasmu wahai putriku..”

Siswi tersebut memandangi pemeriksa dengan pandangan sedih, beliau pun sekarang telah meletakkan tasnya dalam pelukan..

“Berikan tasmu..”

dia menoleh serta menjerit, “tidak…tidak…tidak..”

Perdebatan pun terjadi sangat tajam..

“Berikan tasmu..” …

“tidak..”

“Berikan..”

“tidak..”

Apakah sebenarnya yang membuat siswi tersebut menolak buat dilakukan investigasi di tasnya?!

Apa sebenarnya yg ada pada tas miliknya dan  takut dipergoki oleh tim pemeriksa?!

Keributan pun terjadi serta tangan mereka saling berebut. Sementara tas tadi masih di pegang erat dan  para pengajar belum berhasil merampas tas berasal tangan siswi tersebut karena beliau memeluknya dengan penuh kegilaan!

Spontan saja siswi itu menangis sejadi-jadinya. Siswi-siswi lain terkejut. Mereka melotot. Para guru yang mengenalnya sebagai seorang siswi yang pintar dan  disiplin terkejut melihat peristiwa tersebut..

Daerah itu pun berubah menjadi hening..

Ya Allah, apa sebenarnya yg terjadi serta apa gerangan yang terdapat pada dalam tas siswi tadi. Apakah mungkin siswi tersebut…??

Selesainya berdiskusi ringan, tim pemeriksa putusan bulat untuk membawa siswi tadi ke tempat kerja sekolah, dengan syarat jangan hingga perhatian mereka berpaling asal siswi tersebut agar dia tidak dapat melemparkan sesuatu berasal dalam tasnya sehingga bisa terbebas begitu saja..

Mereka pun membawa siswi tersebut dengan penjagaan yg ketat dari tim dan  para pengajar serta sebagian siswi lainnya. Siswi tadi kini   masuk ke ruangan tempat kerja sekolah, ad interim air matanya mengalir seperti hujan.

Siswi tersebut memperhatikan orang-orang disekitarnya dengan penuh kebencian, karena mereka akan mempermalukannya di depan awam.

Sebab perilakunya selama satu tahun ini baik dan  tak pernah melakukan kesalahan serta pelanggaran, maka kepala sekolah menenangkan hadirin dan  memerintahkan para siswi lainnya agar membubarkan diri. Dan  dengan penuh santun, ketua sekolah pula memohon supaya para pengajar meninggalkan ruangannya sebagai akibatnya yg tersisa hanya para tim pemeriksa saja..

Kepala sekolah berusaha menenangkan siswi malang tersebut. Lantas bertanya padanya, “Apa yang engkau  sembunyikan wahai putriku..?”

di sini, dalam sekejap siswi tadi simpati dengan ketua sekolah dan  membuka tasnya.

Di dalam tas tersebut tidak terdapat benda-benda terlarang atau haram, atau telepon genggam atau foto-foto, demi Allah, itu seluruh tak ada!

Tidak ada dalam tas itu melainkan sisa -sisa  roti..
Yah, itulah yang terdapat dalam tas tersebut.

Sesudah merasa tenang, siswi itu berkata, “residu-sisa  roti ini adalah sisa -sisa  berasal para siswi yg mereka buang di tanah, kemudian aku  kumpulkan buat kemudian aku  makan dengan sebagiannya serta membawa sisanya pada keluargaku. Mak   serta saudari-saudariku di rumah tidak memiliki sesuatu buat mereka santap di siang dan  malam hari Bila aku  tidak membawakan buat mereka residu-residu roti ini.."

"Kami merupakan keluarga fakir yg tak memiliki apa-apa. Kami tidak punya kerabat serta tidak terdapat yg peduli pada kami..," ujar siswi tadi sembari menunduk malu.

"Inilah yang membentuk aku  menolak buat membuka tas, supaya aku  tidak dipermalukan pada hadapan sahabat-temanku pada kelas, yang mana mereka akan terus mencelaku pada sekolah, sehingga kemungkinan hal tersebut mengakibatkan aku  tak dapat lagi meneruskan pendidikanku karena rasa malu. Maka saya mohon maaf sekali pada Anda semua atas perilaku aku  yg tidak sopan..”

saat itu pula seluruh yg hadir di ruangan tersebut tidak kuasa menunda air mata, bahkan beberapa guru menangis sambil memeluk siswi tadi.

Maka tirai pun ditutup sebab terdapat kejadian yang menyedihkan tadi, dan  kita berharap buat tidak menyaksikannya.

Karenanya wahai saudara dan  saudariku, ini artinya satu asal bencana yang kemungkinan ada pada kurang lebih kita, baik itu pada lingkungan serta desa kita sementara kita tidak mengetahuinya atau bahkan kita terkadang berpura-pura tak mengenal mereka.

Wajib  bagi semua sekolah dan  pesantren untuk mendata kondisi ekonomi para santri-santrinya agar orang yang ingin membantu famili fakir miskin dapat mengenalinya menggunakan baik.

Kita memohon pada Allah supaya tidak menghinakan orang yg mulia serta memohon pada-Nya agar beliau selalu menjaga kaum Muslimin pada setiap kawasan.
https://trendingtopics.blogspot.com/2016/02/razia-kelas-isi-tas-siswi-sma-ini.html